Pemilik kedai kopi menghitung HPP bahan baku dengan kalkulator, buku catatan, dan nota belanja di meja bar

Cara Menghitung HPP: Rumus, Contoh Hitungan, dan 5 Jebakan yang Bikin Usaha Rugi

Categories: Teknologi BisnisPublished On: October 1, 2026By Views: 9

Cara menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan) untuk usaha dagang: HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir. Untuk usaha yang membuat produk sendiri, seperti kedai makanan atau konveksi, HPP per unit dihitung dari bahan baku + tenaga kerja langsung + biaya produksi tidak langsung, lalu dibagi jumlah unit yang dihasilkan. Angka inilah batas bawah harga jual Anda. Jual di bawahnya, setiap transaksi sebenarnya menggerus modal.

Rumusnya memang sederhana. Yang sering membuat pemilik usaha salah hitung justru hal-hal kecil yang tidak ikut masuk: ongkos kirim dari supplier, kemasan, bahan yang terbuang, sampai komisi aplikasi pesan antar. Panduan ini membahas rumusnya, dua contoh hitungan dengan angka rupiah, lalu jebakan yang paling sering kami temui saat membantu usaha merapikan pencatatan stok dan kasir.

Apa Itu HPP dan Kenapa Pemilik Usaha Wajib Tahu Angkanya

HPP adalah total biaya yang benar-benar melekat pada barang yang sudah terjual dalam satu periode. Bukan seluruh uang yang keluar bulan itu. Sewa toko, gaji admin, dan biaya iklan biasanya masuk biaya operasional, bukan HPP (kecuali untuk perhitungan biaya penuh per porsi, yang akan kita bahas di contoh kedai kopi).

Kenapa penting? Karena dari HPP Anda bisa menjawab tiga pertanyaan yang menentukan hidup usaha:

  • Berapa laba kotor sebenarnya? Penjualan dikurangi HPP. Omzet besar belum tentu untung.
  • Berapa harga jual minimum? Tanpa HPP, harga jual hanya tebakan atau ikut-ikutan harga tetangga.
  • Produk mana yang menyelamatkan dan mana yang membebani? Sering kali menu terlaris justru marginnya paling tipis.

Satu catatan istilah. Dalam akuntansi ada dua “HPP” yang mirip: Harga Pokok Penjualan (barang yang terjual) dan Harga Pokok Produksi (biaya membuat barang dalam satu periode, terjual atau belum). Usaha dagang cukup memakai yang pertama. Usaha produksi menghitung harga pokok produksi dulu, baru turun ke harga pokok penjualan.

Rumus HPP untuk Usaha Dagang

Usaha dagang membeli barang jadi lalu menjualnya kembali: toko sembako, toko baju, distributor sparepart, reseller skincare. Rumusnya:

HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih − Persediaan Akhir

Dengan Pembelian Bersih = Total Pembelian + Ongkos Angkut Pembelian − Retur Pembelian − Potongan Pembelian.

Ongkos angkut yang dimaksud adalah ongkos membawa barang dari supplier ke gudang Anda, bukan ongkir ke pelanggan. Ongkir ke pelanggan masuk biaya penjualan.

Contoh: toko fashion di Bandung, periode September

Komponen Nilai
Persediaan awal (stok per 1 September) Rp 20.000.000
Pembelian barang dari konveksi Rp 45.000.000
Ongkos kirim dari konveksi ke toko Rp 1.500.000
Retur barang cacat ke konveksi Rp 500.000
Pembelian bersih Rp 46.000.000
Barang tersedia untuk dijual (awal + pembelian bersih) Rp 66.000.000
Persediaan akhir (hasil hitung fisik 30 September) Rp 18.000.000
HPP September Rp 48.000.000

Kalau penjualan September Rp 62.000.000, laba kotornya Rp 14.000.000 atau sekitar 22,6% dari penjualan. Dari situ masih harus dikurangi sewa, gaji, listrik, dan biaya iklan. Kalau biaya-biaya itu totalnya Rp 15 juta, toko ini sebenarnya rugi walau rak terlihat ramai.

Perhatikan baris persediaan akhir. Angka itu harus dari hitung fisik, bukan perkiraan. Selisih stok karena barang hilang atau salah catat otomatis “masuk” ke HPP. Itulah kenapa stock opname rutin bukan formalitas: tanpa itu, angka HPP Anda ikut kabur.

Rumus HPP untuk Usaha yang Memproduksi Sendiri

Untuk kedai makanan, katering, konveksi, atau bakery, komponennya lebih banyak:

  1. Bahan baku yang dipakai: persediaan bahan awal + pembelian bahan − persediaan bahan akhir.
  2. Tenaga kerja langsung: upah orang yang langsung membuat produk (juru masak, penjahit), bukan kasir atau admin.
  3. Biaya overhead produksi: gas, listrik dapur, penyusutan mesin, bahan penolong seperti minyak goreng atau benang.

Ketiganya dijumlah menjadi total biaya produksi. Ditambah barang setengah jadi di awal periode, dikurangi barang setengah jadi di akhir, hasilnya harga pokok produksi. Lalu HPP = Harga Pokok Produksi + Persediaan Barang Jadi Awal − Persediaan Barang Jadi Akhir.

Di lapangan, kebanyakan pemilik kedai lebih butuh angka HPP per porsi ketimbang laporan bulanan. Caranya dengan menghitung resep.

Contoh: HPP segelas es kopi susu gula aren

Angka di bawah ini ilustrasi. Harga bahan di kota Anda pasti berbeda, jadi ganti dengan nota belanja sendiri.

Bahan per gelas Takaran Harga beli Biaya
Biji kopi 18 gram Rp 250.000/kg Rp 4.500
Susu segar 150 ml Rp 20.000/liter Rp 3.000
Gula aren cair 20 ml Rp 40.000/liter Rp 800
Es batu 1 takar dari stok es Rp 300
Cup, tutup, sedotan 1 set per pak Rp 1.800
Total bahan Rp 10.400
Cadangan susut/terbuang 5% Rp 520
HPP bahan per gelas Rp 10.920

Sekarang biaya tetap. Misalkan sewa, listrik, dan gaji dua barista totalnya Rp 9.000.000 per bulan dan kedai menjual sekitar 3.000 gelas. Alokasinya Rp 3.000 per gelas. Biaya penuh per gelas menjadi Rp 13.920.

Kalau Anda ingin margin 30% dari harga jual, rumusnya bukan “biaya dikali 1,3”. Rumus yang benar:

Harga Jual = Biaya Penuh / (1 − Target Margin) = Rp 13.920 / 0,7 = Rp 19.886, dibulatkan Rp 20.000.

5 Jebakan yang Membuat HPP Terlihat Untung Padahal Rugi

1. Menyamakan markup dengan margin

Markup 30% berarti biaya Rp 13.920 dijual Rp 18.096. Margin yang didapat ternyata hanya sekitar 23%, bukan 30%. Selisih kecil per gelas, tetapi dikali ribuan transaksi per bulan, hasilnya jutaan rupiah yang Anda kira ada padahal tidak.

2. Lupa komisi aplikasi pesan antar

Ini yang paling sering menjebak kedai. Komisi platform dipotong dari harga jual, bukan dari laba. Misalkan komisinya 20% dan menu tetap dipasang Rp 20.000 di aplikasi. Yang masuk ke Anda Rp 16.000, dikurangi biaya penuh Rp 13.920, sisanya Rp 2.080 per gelas. Margin 30% tadi tinggal sekitar 10%.

Supaya margin tetap 30% di aplikasi: Rp 13.920 / (1 − 0,3 − 0,2) = Rp 27.840. Itu sebabnya banyak kedai memasang harga berbeda di aplikasi dan di kasir. Besaran komisi tiap platform berbeda, jadi pakai angka dari kontrak mitra Anda sendiri.

3. Kemasan dan bahan kecil tidak dihitung

Kantong plastik, stiker label, tisu, saus sachet, kardus. Masing-masing hanya ratusan rupiah, tetapi bisa mencapai 10% sampai 15% dari HPP produk murah. Masukkan ke resep, jangan dianggap biaya umum.

4. Harga bahan sudah naik, HPP masih pakai angka lama

HPP dihitung sekali saat buka usaha, lalu tidak pernah diperbarui. Padahal harga cabai, telur, atau biji kopi bisa naik turun tajam dalam beberapa bulan. Biasakan meninjau ulang HPP minimal tiap kali supplier menaikkan harga.

Untuk stok yang dibeli dengan harga berbeda-beda, ada dua metode yang umum dan sah dipakai: FIFO (barang yang pertama masuk dianggap pertama keluar) dan rata-rata tertimbang (harga beli dirata-rata setiap ada pembelian baru). Metode LIFO tidak diperkenankan dalam standar akuntansi persediaan di Indonesia. Pilih satu metode dan konsisten.

5. Bahan terbuang dan stok hilang dianggap tidak ada

Sayur layu, roti kedaluwarsa, salah racik, porsi yang “dilebihkan” karyawan. Semua itu biaya. Kalau HPP resep Anda Rp 10.920 tetapi HPP dari laporan bulanan setara Rp 12.500 per gelas, selisihnya hampir pasti ada di sini. Membandingkan dua angka ini tiap bulan adalah cara paling murah mendeteksi kebocoran.

Kapan Excel Cukup, Kapan Perlu Sistem

Untuk usaha dengan belasan produk dan satu outlet, spreadsheet resep plus stock opname bulanan sudah memadai. Masalah mulai muncul ketika:

  • Produk atau menu sudah puluhan, masing-masing dengan resep berbeda.
  • Harga bahan berubah setiap minggu dan Anda kewalahan memperbarui sheet.
  • Outlet lebih dari satu, sehingga stok tersebar dan sulit dicocokkan.
  • Anda ingin tahu laba per menu per hari, bukan menunggu akhir bulan.

Di titik itu, aplikasi kasir yang terhubung dengan stok dan resep (sering disebut bill of materials) bisa memotong bahan otomatis setiap transaksi dan menghitung HPP secara berjalan. Kalau Anda sedang menimbang pilihannya, baca dulu panduan memilih aplikasi kasir untuk UMKM dan cara memilih software akuntansi. Untuk proses bisnis yang tidak cocok dengan aplikasi siap pakai, misalnya resep bertingkat atau produksi pesanan khusus, tim Majapahit Teknologi bisa membantu merancang aplikasi kasir dan stok yang disesuaikan dengan cara kerja usaha Anda. Konsultasi awalnya gratis lewat WhatsApp.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya HPP dan harga jual?

HPP adalah biaya untuk mendapatkan atau membuat barang yang terjual. Harga jual adalah angka yang dibayar pelanggan. Selisih keduanya adalah laba kotor, yang masih harus menanggung biaya operasional seperti sewa, gaji, dan iklan sebelum menjadi laba bersih.

Apakah gaji karyawan masuk HPP?

Hanya upah tenaga kerja yang langsung membuat produk, misalnya juru masak atau penjahit. Gaji kasir, admin, dan manajer masuk biaya operasional. Untuk usaha dagang murni yang tidak memproduksi apa pun, gaji karyawan umumnya tidak masuk HPP.

Berapa persen HPP yang ideal?

Tidak ada angka tunggal. Usaha makanan, retail, dan jasa punya struktur biaya yang sangat berbeda. Patokan yang lebih berguna: setelah dikurangi HPP, laba kotor harus cukup menutup seluruh biaya operasional bulanan dan masih menyisakan laba. Hitung mundur dari angka itu.

Seberapa sering HPP harus dihitung ulang?

HPP per produk sebaiknya ditinjau setiap kali harga bahan dari supplier berubah. HPP periode (bulanan) dihitung setiap tutup buku setelah stock opname, lalu dibandingkan dengan HPP resep untuk melihat kebocoran.

HPP beras atau gabah yang sering muncul di berita itu sama?

Berbeda. Di berita pertanian, HPP berarti Harga Pembelian Pemerintah, yaitu harga acuan pemerintah untuk membeli gabah dan beras dari petani. Artikel ini membahas HPP dalam arti Harga Pokok Penjualan untuk usaha.

Tren Mingguan

Siap untuk Memulai?

Bingung dalam memilih jasa pembuatan aplikasi atau website? Hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut.

Ai Majapahit Female