Pelatih perempuan berhijab menunjukkan modul kursus online di laptop kepada tiga karyawan di ruang pelatihan kantor Jakarta, salah satunya mengerjakan kuis di ponsel

Jasa Pembuatan LMS 2026: Biaya, Fitur Wajib, dan Cara Memilih Jalur yang Tepat

Categories: Pengembangan Aplikasi, Teknologi BisnisPublished On: September 29, 2026By Views: 7

Seorang manajer HR di perusahaan distribusi dengan 14 cabang biasanya sampai pada titik yang sama: materi orientasi karyawan baru tersebar di tiga folder Google Drive, kuis K3 dikerjakan lewat formulir yang hasilnya direkap manual, dan tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti siapa yang sudah menyelesaikan pelatihan wajib bulan ini. Di titik itulah pencarian jasa pembuatan LMS dimulai. Masalahnya bukan kekurangan materi, tetapi tidak adanya satu tempat yang mencatat siapa belajar apa, kapan, dan dengan hasil berapa.

Panduan ini membantu Anda memutuskan tiga hal sebelum meminta penawaran: jalur mana yang cocok (langganan SaaS, Moodle yang disesuaikan, atau LMS custom), komponen apa yang benar-benar menentukan biaya, dan pertanyaan apa yang harus dijawab vendor sebelum Anda tanda tangan. Kami menulisnya dari sisi tim yang membangun dan merawat sistem, jadi fokusnya pada hal yang jarang tertulis di brosur: integrasi, kepemilikan data, dan biaya setelah peluncuran.

Daftar Isi

Apa yang sebenarnya Anda beli saat memesan LMS

LMS (Learning Management System) sering dibayangkan sebagai “website berisi video pelatihan”. Gambaran itu terlalu sempit, dan di situlah banyak penawaran yang tampak murah menjadi mahal belakangan. Sebuah LMS yang dipakai sungguhan terdiri dari enam bagian yang bekerja bersama.

Pertama, pengelolaan pengguna dan peran. Siapa peserta, siapa pengajar, siapa admin cabang, siapa yang hanya boleh melihat laporan. Di perusahaan dengan banyak cabang atau divisi, struktur peran ini sering lebih rumit daripada materinya sendiri.

Kedua, katalog dan jalur belajar. Kursus disusun menjadi jalur, misalnya “orientasi karyawan baru gudang” yang terdiri dari lima modul berurutan, dengan syarat modul sebelumnya harus lulus dulu.

Ketiga, pemutar materi. Video, dokumen, presentasi, dan paket interaktif berformat SCORM atau xAPI. Bagian ini menentukan apakah materi yang sudah Anda beli dari penyedia konten bisa langsung dipakai.

Keempat, evaluasi. Kuis, bank soal, ujian dengan batas waktu, pengacakan soal, penilaian tugas, dan sertifikat otomatis. Untuk lembaga kursus atau asosiasi profesi, bagian ini biasanya menjadi pusat seluruh sistem.

Kelima, laporan. Siapa yang belum mulai, siapa yang berhenti di tengah, nilai rata-rata per cabang, materi mana yang paling sering diulang. Tanpa laporan yang bisa dibaca atasan, LMS hanya memindahkan folder ke tempat baru.

Keenam, integrasi dan administrasi. Login dengan akun kantor, sinkronisasi data karyawan, pembayaran untuk kursus berbayar, notifikasi pengingat, dan cadangan data. Bagian inilah yang paling sering hilang dari penawaran awal.

Ketika membandingkan dua penawaran, jangan bandingkan total harganya dulu. Bandingkan dulu keenam bagian ini: mana yang tercakup, mana yang “bisa ditambahkan nanti”, dan mana yang tidak disebut sama sekali.

Siapa yang benar-benar butuh LMS

Kebutuhan LMS di Indonesia tidak lagi terbatas pada kampus. Registri resmi Moodle (stats.moodle.org) per September 2026 mencatat 4.284 situs Moodle terdaftar dari Indonesia, dan 3.045 di antaranya memilih tidak ditampilkan ke publik. Daftar yang terlihat berisi campuran sekolah, kampus, balai pelatihan pemerintah daerah, rumah sakit, asosiasi profesi, dan lembaga kursus. Angka itu hanya menghitung yang mendaftar secara sukarela, jadi pemakaian sebenarnya lebih besar. Secara global, registri yang sama mencatat 146.966 situs di 236 negara dengan sekitar 530 juta akun pengguna.

Basis penggunanya juga sudah siap. Survei APJII 2024 mencatat 221,5 juta pengguna internet di Indonesia, atau penetrasi 79,5 persen. Artinya, hambatan terbesar LMS jarang lagi soal akses, melainkan soal desain alur dan kebiasaan pengguna.

Dari pola permintaan yang kami lihat, pengguna LMS terbagi menjadi empat kelompok dengan kebutuhan yang cukup berbeda:

  • Perusahaan dengan banyak cabang atau karyawan lapangan. Butuh orientasi karyawan baru yang seragam, pelatihan wajib (K3, anti-fraud, SOP produk), dan bukti penyelesaian untuk audit. Pesertanya sering belajar dari ponsel di sela shift.
  • Lembaga kursus, bimbel, dan penyedia pelatihan berbayar. Butuh penjualan kelas, pembayaran, kupon, dan tampilan yang memperkuat merek. LMS di sini adalah produk yang dijual, bukan alat internal.
  • Sekolah dan perguruan tinggi. Butuh kelas per semester, tugas, ujian, dan sinkronisasi dengan sistem akademik. Sebagian besar kebutuhan ini sudah terlayani Moodle atau produk siap pakai.
  • Asosiasi profesi dan lembaga sertifikasi. Butuh ujian yang aman, bank soal besar, sertifikat yang bisa diverifikasi, dan catatan poin pendidikan berkelanjutan.

Kalau Anda termasuk kelompok ketiga dan kebutuhannya standar, sering kali Anda tidak perlu jasa pembuatan sama sekali. Kelompok pertama, kedua, dan keempat yang paling sering membutuhkan penyesuaian serius.

Tiga jalur: SaaS, Moodle yang disesuaikan, atau custom

Hampir semua proyek LMS berakhir di salah satu dari tiga jalur berikut. Tidak ada yang selalu benar. Yang ada hanya jalur yang cocok dengan skala, anggaran, dan tingkat kekhususan alur Anda.

Aspek LMS SaaS (berlangganan) Moodle / open source disesuaikan LMS custom
Waktu mulai pakai Hari sampai minggu Beberapa minggu Beberapa bulan
Pola biaya Biaya per pengguna per bulan, terus berjalan Biaya penyesuaian di awal + server + perawatan Biaya pengembangan besar di awal + perawatan
Kesesuaian alur Mengikuti alur produk Fleksibel lewat plugin dan tema Sepenuhnya mengikuti alur Anda
Kepemilikan data Di server penyedia, ekspor sesuai fitur yang tersedia Di server Anda Di server Anda
Integrasi dengan sistem internal Terbatas pada konektor yang disediakan Luas, tetapi butuh pengembang yang paham Moodle Sesuai kebutuhan
Risiko utama Tagihan naik saat peserta bertambah Plugin tidak terawat, pembaruan versi yang tertunda Anggaran dan jadwal melebar kalau lingkup tidak dikunci
Cocok untuk Peserta sedikit, alur standar, butuh cepat Sekolah, kampus, pelatihan internal dengan anggaran menengah LMS sebagai produk berbayar, alur sertifikasi khusus, integrasi berat

Satu hitungan sederhana sering membantu. Kalikan biaya langganan per pengguna dengan jumlah peserta aktif, lalu kalikan 36 bulan. Kalau angkanya jauh melampaui biaya membangun dan merawat sendiri selama tiga tahun, jalur Moodle atau custom layak ditimbang. Kalau pesertanya hanya puluhan orang, langganan hampir selalu lebih masuk akal. Logika yang sama kami uraikan lebih panjang di panduan SaaS untuk pemilik bisnis.

Satu catatan tentang Moodle: gratis lisensinya, bukan gratis pengoperasiannya. Server, pembaruan versi, penyesuaian tema, plugin, dan orang yang menjaga semuanya tetap berjalan adalah biaya nyata. Banyak organisasi memasang Moodle sendiri, lalu dua tahun kemudian terjebak di versi lama karena tidak ada yang berani memperbarui.

Fitur wajib dan fitur yang bisa menunggu

Daftar fitur LMS bisa sangat panjang. Cara paling aman menjaga anggaran adalah memisahkan apa yang harus ada di hari pertama dan apa yang bisa masuk di fase kedua setelah Anda melihat perilaku peserta yang sebenarnya.

Fitur Fase 1 (wajib) Fase 2 (setelah ada data pemakaian)
Login dan peran pengguna Ya, termasuk admin per cabang bila ada Login tunggal dengan akun kantor
Kursus dan jalur belajar Modul berurutan dengan syarat kelulusan Rekomendasi kursus berdasarkan jabatan
Materi Video, PDF, dan paket SCORM xAPI, pelacakan belajar di luar LMS
Evaluasi Kuis, bank soal, nilai minimum, sertifikat Ujian dengan pengawasan, penilaian esai oleh atasan
Laporan Status penyelesaian per peserta dan per unit Dasbor tren, ekspor otomatis ke HRIS
Notifikasi Email pengingat tenggat Pengingat lewat WhatsApp jalur resmi
Penjualan kelas Hanya bila LMS adalah produk berbayar Kupon, afiliasi, paket berlangganan
Aplikasi ponsel Tampilan web yang responsif Aplikasi Android dan iOS, masing-masing dianggarkan terpisah
Gamifikasi Tidak perlu Poin dan papan peringkat bila terbukti menaikkan penyelesaian

Perhatikan baris aplikasi ponsel. Untuk sebagian besar LMS korporat, tampilan web yang dirancang baik untuk layar ponsel sudah cukup di fase awal. Aplikasi native baru terasa perlu ketika peserta harus mengunduh materi untuk belajar tanpa sinyal, misalnya karyawan di lokasi tambang, kebun, atau kapal. Kalau itu kebutuhan Anda, perlakukan Android dan iOS sebagai dua pekerjaan dengan anggaran masing-masing, dan mulai dari platform yang paling banyak dipakai peserta Anda. Rincian komponen biaya aplikasi ponsel ada di panduan biaya aplikasi mobile.

SCORM dan xAPI: standar yang menentukan materi Anda bisa dipindah atau tidak

Bagian ini terdengar teknis, tetapi dampaknya sangat bisnis. Kalau materi pelatihan Anda dibuat dalam format yang terkunci di satu platform, pindah vendor berarti membuat ulang materi dari nol.

SCORM adalah standar paket materi e-learning yang dikembangkan oleh Advanced Distributed Learning (ADL) Initiative. Satu paket SCORM berisi materi interaktif sekaligus aturan cara LMS mencatat nilai dan status penyelesaiannya. Hampir semua alat pembuat materi dan LMS mendukung SCORM 1.2 dan SCORM 2004, sehingga paket yang sama bisa dipindahkan dari satu LMS ke LMS lain.

xAPI (Experience API) adalah penerus yang lebih luas, awalnya juga dari ADL. xAPI bisa mencatat aktivitas belajar di luar LMS, misalnya simulasi, praktik lapangan, atau aplikasi terpisah, lalu menyimpannya di Learning Record Store. Sejak Oktober 2023, xAPI resmi menjadi standar IEEE 9274.1.1-2023.

Untuk kebanyakan organisasi, aturannya sederhana: pastikan LMS Anda bisa memutar dan mencatat paket SCORM, dan pastikan materi yang dibuatkan vendor diserahkan juga dalam format sumber yang bisa Anda buka sendiri. xAPI baru perlu diprioritaskan kalau Anda memang berencana mencatat pembelajaran di luar kelas online.

Komponen biaya jasa pembuatan LMS

Pertanyaan “berapa biaya pembuatan LMS?” hampir selalu dijawab vendor dengan “tergantung”. Jawaban itu jujur, tetapi tidak membantu. Yang lebih berguna adalah mengetahui variabel apa saja yang membuat angkanya naik, supaya Anda bisa memangkas yang tidak perlu sebelum meminta penawaran.

Komponen Membuat biaya rendah Membuat biaya naik
Jalur dasar Moodle dengan tema yang disesuaikan Dibangun custom dari awal
Struktur peran Admin, pengajar, peserta Hierarki cabang, divisi, penyetuju berjenjang
Evaluasi Kuis pilihan ganda standar Ujian terawasi, bank soal ribuan butir, penilaian manual berjenjang
Integrasi Tanpa integrasi, data peserta diunggah lewat file Sinkron HRIS, login tunggal, pembayaran, sistem akademik
Materi Klien menyediakan materi siap pakai Vendor ikut memproduksi video dan paket interaktif
Skala peserta Ratusan peserta, akses tidak serentak Ribuan peserta ujian di jam yang sama
Aplikasi ponsel Tampilan web responsif Aplikasi Android dan iOS dengan mode unduh materi

Sebagai gambaran kasar (bukan harga paket), proyek penyesuaian Moodle untuk pelatihan internal tanpa integrasi berat biasanya berada di rentang belasan hingga puluhan juta rupiah. LMS custom dengan integrasi ke sistem SDM, pembayaran, dan ujian terawasi masuk ke rentang ratusan juta rupiah. Rentang di antaranya ditentukan oleh baris-baris tabel di atas, bukan oleh “merek” vendor.

Jangan lupa biaya yang terus berjalan setelah peluncuran:

  • Server dan penyimpanan video. Video adalah komponen terberat. Menyimpan video di layanan hosting video khusus sering lebih murah dan lebih lancar daripada menaruhnya di server LMS.
  • Perawatan dan pembaruan keamanan. Termasuk pembaruan versi Moodle atau pustaka yang dipakai LMS custom. Pola kontrak perawatan kami bahas di panduan jasa maintenance aplikasi.
  • Admin konten. Seseorang harus mengunggah materi baru, mengatur jadwal, dan menjawab peserta yang lupa kata sandi. Kalau posisi ini tidak ada, LMS berhenti diperbarui dalam hitungan bulan.
  • Biaya pesan. Pengingat lewat WhatsApp resmi dikenai tarif per pesan dari Meta, jadi perlu dihitung sejak awal.

Kalau Anda ingin melihat bagaimana tarif tim pengembang dihitung secara umum, rinciannya ada di artikel biaya jasa software house.

Integrasi yang menentukan LMS dipakai atau ditinggalkan

LMS jarang gagal karena fiturnya kurang. Lebih sering gagal karena menjadi satu lagi sistem yang harus diurus terpisah. Empat integrasi berikut paling berpengaruh pada tingkat pemakaian.

Login tunggal. Kalau karyawan harus mengingat kata sandi baru khusus LMS, tiket “lupa password” akan menumpuk di minggu pertama. Login dengan akun kantor yang sudah ada menghapus masalah itu. Konsepnya kami jelaskan di artikel apa itu SSO.

Sinkronisasi data karyawan. Karyawan baru otomatis terdaftar di jalur orientasi, karyawan yang pindah divisi otomatis mendapat kursus divisi barunya, dan karyawan yang keluar otomatis kehilangan akses. Tanpa sinkronisasi, admin LMS akan menghabiskan waktunya untuk memindahkan data dari spreadsheet.

Pembayaran. Untuk LMS yang menjual kelas, alur pembayaran harus langsung membuka akses kursus tanpa campur tangan admin. Setiap langkah manual di sini berarti calon peserta yang menunggu dan akhirnya membatalkan.

Laporan ke atasan. Laporan yang otomatis terkirim ke kepala cabang setiap Senin lebih efektif mendorong penyelesaian pelatihan daripada fitur gamifikasi apa pun. Untuk LMS korporat, bagian ini sering menjadi pembeda antara sistem yang dipakai dan yang hanya ada.

Kalau kebutuhan integrasi Anda lebih luas dari LMS, misalnya menyambungkan pelatihan dengan penilaian kinerja atau sistem kehadiran, pertimbangkan pendekatan software custom untuk bisnis yang merancang alur data dari awal, bukan menambal sistem satu per satu.

Data peserta dan kewajiban UU PDP

LMS menyimpan data pribadi: nama, email, nomor ponsel, jabatan, nilai ujian, dan kadang foto atau rekaman wajah saat ujian terawasi. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi berlaku penuh sejak Oktober 2024, dan organisasi yang mengelola LMS berperan sebagai pengendali data untuk peserta.

Dalam praktik, ada empat hal yang perlu disepakati dengan vendor sejak awal: di mana server berada, siapa yang boleh mengakses data mentah, berapa lama data peserta yang sudah keluar disimpan, dan bagaimana prosedur jika terjadi kebocoran. Rekaman wajah saat ujian perlu perhatian khusus karena termasuk data yang sensitif. Penjelasan kewajiban yang lebih lengkap ada di panduan UU PDP untuk bisnis.

Delapan langkah proyek LMS

Urutan di bawah ini menjaga proyek tetap terkendali, terutama pada bagian yang paling sering melar: lingkup dan materi.

  1. Tetapkan satu tujuan yang bisa diukur. Misalnya “100 persen karyawan baru menyelesaikan orientasi dalam 14 hari pertama” atau “menjual 300 kursi kelas online per bulan”. Tujuan ini menentukan fitur mana yang wajib.
  2. Petakan peserta dan perangkatnya. Berapa orang, belajar dari ponsel atau laptop, di jam kerja atau di luar jam kerja, dengan sinyal yang stabil atau tidak.
  3. Inventarisasi materi yang sudah ada. Pisahkan materi yang siap pakai, yang perlu diperbarui, dan yang harus dibuat baru. Produksi materi sering memakan waktu lebih lama daripada pembangunan sistem.
  4. Pilih jalur: SaaS, Moodle, atau custom. Gunakan tabel perbandingan dan hitungan 36 bulan di atas.
  5. Kunci lingkup fase 1. Tulis daftar fitur fase 1 dan fase 2, lalu minta vendor menawar hanya fase 1. Ini cara paling efektif mencegah anggaran melebar.
  6. Uji coba dengan satu kelompok kecil. Satu cabang atau satu angkatan kelas, dua sampai empat minggu. Catat di mana peserta bingung dan berhenti.
  7. Perbaiki, lalu luncurkan bertahap. Perluas ke cabang atau kelas berikutnya setelah masalah dari uji coba ditutup.
  8. Tinjau laporan bulanan. Tingkat penyelesaian, modul dengan angka berhenti tertinggi, dan waktu rata-rata per modul. Data ini yang menentukan isi fase 2.

Kalau Anda ingin memulai dengan versi sekecil mungkin untuk menguji minat, misalnya sebelum menjual kelas online secara penuh, pola MVP (minimum viable product) layak dipakai.

Kesalahan yang paling sering terjadi

Membangun sistem sebelum materinya siap. LMS yang selesai dibangun tetapi hanya berisi dua kursus akan dicap “sepi” oleh peserta di minggu pertama, dan kesan itu sulit dihapus.

Mengunggah video rapat berdurasi dua jam sebagai materi. Peserta berhenti di menit kesepuluh. Materi yang dipotong menjadi segmen lima sampai sepuluh menit dengan kuis singkat di antaranya hampir selalu menghasilkan penyelesaian yang lebih baik.

Tidak menyiapkan admin konten. Vendor membangun sistem, bukan mengelola kalender pelatihan Anda. Tanpa satu orang yang bertanggung jawab di sisi Anda, LMS berhenti diperbarui.

Mengabaikan beban ujian serentak. Sistem yang lancar dengan 50 pengguna bisa melambat ketika 2.000 peserta membuka ujian di menit yang sama. Kalau ada ujian serentak, uji beban harus masuk dalam lingkup pekerjaan.

Tidak mengatur kepemilikan kode dan data di kontrak. Pastikan kode sumber, akses server, dan ekspor data peserta menjadi milik Anda, sehingga Anda bebas berganti vendor kelak.

Sembilan pertanyaan untuk calon vendor

  1. Jalur apa yang Anda sarankan untuk kebutuhan kami, dan mengapa bukan dua jalur lainnya?
  2. Dari enam bagian LMS (pengguna, katalog, pemutar materi, evaluasi, laporan, integrasi), mana yang termasuk dalam penawaran ini dan mana yang tidak?
  3. Apakah LMS ini bisa memutar dan mencatat paket SCORM? Versi apa yang didukung?
  4. Bagaimana data karyawan atau peserta masuk ke sistem, manual atau tersinkron otomatis?
  5. Berapa peserta serentak yang sudah diuji, dan bagaimana cara pengujiannya?
  6. Di mana server berada, dan siapa saja yang punya akses ke data peserta?
  7. Apakah kode sumber, akses server, dan materi yang dibuat diserahkan kepada kami?
  8. Berapa biaya tahunan setelah peluncuran, termasuk server, penyimpanan video, dan perawatan?
  9. Apa yang terjadi jika kami ingin pindah ke vendor lain dua tahun lagi? Format ekspor data apa yang tersedia?

Vendor yang baik akan menjawab pertanyaan nomor 1 dengan jujur, termasuk mengatakan bahwa Anda cukup berlangganan SaaS bila memang begitu kondisinya. Kalau semua jawabannya mengarah ke pembangunan custom yang paling mahal, pertimbangkan pendapat kedua. Kriteria memilih tim pengembang secara umum kami rangkum di panduan memilih software house.

Dua skenario ilustrasi

Skenario A: jaringan klinik dengan 300 staf. Kebutuhannya orientasi staf baru dan penyegaran SOP keselamatan pasien setiap enam bulan. Materi sudah ada dalam bentuk presentasi. Pilihan yang masuk akal adalah Moodle yang disesuaikan: tema sesuai identitas klinik, jalur orientasi berurutan, kuis dengan nilai minimum, sertifikat otomatis, dan laporan bulanan ke kepala klinik. Integrasi berat belum diperlukan; data staf cukup diunggah lewat file setiap bulan. Fase 2 baru mempertimbangkan login tunggal setelah jumlah staf bertambah.

Skenario B: lembaga pelatihan yang menjual sertifikasi online. Kebutuhannya penjualan kelas, pembayaran otomatis, ujian dengan pengawasan, dan sertifikat yang bisa diverifikasi pihak ketiga lewat kode unik. LMS di sini adalah produk utama yang menghasilkan pendapatan, sehingga tampilan, kecepatan, dan alur beli menjadi sangat penting. Jalur custom, atau Moodle yang dimodifikasi berat, menjadi pilihan yang lebih tepat. Karena menangani pembayaran dan data ujian, keamanan dan uji beban wajib masuk lingkup fase 1.

Kedua skenario di atas adalah ilustrasi pola kebutuhan, bukan studi kasus klien tertentu.

Pertanyaan yang sering diajukan

Berapa biaya pembuatan LMS?

Biaya ditentukan oleh jalur (SaaS, Moodle yang disesuaikan, atau custom), jumlah integrasi, jenis evaluasi, dan skala peserta serentak. Penyesuaian Moodle untuk pelatihan internal umumnya berada di rentang belasan hingga puluhan juta rupiah, sedangkan LMS custom dengan integrasi dan ujian terawasi bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tambahkan biaya tahunan untuk server, penyimpanan video, dan perawatan.

Apa saja contoh LMS?

Contoh yang paling banyak dipakai adalah Moodle (open source) dan berbagai LMS berlangganan yang dijual per pengguna. Di Indonesia, banyak sekolah, kampus, dan balai pelatihan memakai Moodle; registri resmi Moodle mencatat lebih dari 4.000 situs terdaftar dari Indonesia. Organisasi dengan alur khusus membangun LMS custom.

Apa LMS gratis yang layak dipakai?

Moodle adalah pilihan open source yang paling matang dan paling banyak dukungannya. Namun gratis lisensinya tidak berarti gratis pengoperasiannya: server, pembaruan versi, tema, dan orang yang merawatnya tetap membutuhkan anggaran.

Apa bedanya LMS dan e-learning?

E-learning adalah cara belajar secara daring, sedangkan LMS adalah sistem yang mengelola e-learning tersebut: mendaftarkan peserta, menyajikan materi, mencatat kemajuan dan nilai, serta membuat laporan. Anda bisa melakukan e-learning tanpa LMS, tetapi tanpa catatan yang rapi.

Berapa lama membuat LMS?

Penyesuaian Moodle atau pengaturan SaaS bisa selesai dalam hitungan minggu. LMS custom dengan integrasi biasanya butuh beberapa bulan. Faktor yang paling sering memperpanjang jadwal justru kesiapan materi dan data peserta, bukan pemrogramannya.

Perlukah LMS punya aplikasi Android dan iOS?

Untuk sebagian besar LMS korporat, tampilan web yang responsif sudah cukup di tahap awal. Aplikasi ponsel baru terasa manfaatnya ketika peserta perlu mengunduh materi untuk belajar tanpa sinyal. Jika diperlukan, Android dan iOS dianggarkan sebagai dua pekerjaan terpisah, dimulai dari platform yang paling banyak dipakai peserta.

Minta pendapat kedua sebelum memilih jalur

Belum yakin apakah Anda cukup berlangganan, perlu Moodle yang disesuaikan, atau memang butuh LMS custom? Kirimkan jumlah peserta, jenis pelatihan, dan sistem yang sudah Anda pakai. Dalam konsultasi gratis 15 menit, tim kami akan memetakan jalur yang paling masuk akal dan menandai bagian penawaran vendor yang perlu dipertegas, termasuk bila jawabannya adalah Anda tidak perlu membangun apa pun.

Konsultasikan kebutuhan LMS lewat WhatsApp di +62 877-7779-0947, atau pelajari dulu cakupan layanan kami di halaman jasa pembuatan aplikasi, jasa pembuatan aplikasi web, dan software house Jakarta.

Majapahit Teknologi telah dipercaya oleh kementerian dan instansi pemerintah Republik Indonesia, perusahaan multinasional sektor manufaktur otomotif, asuransi nasional dan multinasional, serta perusahaan teknologi global. Detail klien spesifik tersedia atas permintaan pasca NDA.

Tren Mingguan

Siap untuk Memulai?

Bingung dalam memilih jasa pembuatan aplikasi atau website? Hubungi kami untuk konsultasi lebih lanjut.

Ai Majapahit Female